Pengantin Baru : Dua Dunia dalam Satu Atap (4)

Monday, 18 May 2015 Wedding Tips

Berikut ini lanjutan hal-hal yang perlu dipertimbangkan calon pengantin baru dengan latar belakang budaya serta suku, agama, dan ras yang berbeda:

2. Pandangan Seputar Seks

Di dunia Timur, seks adalah hal yang tabu untuk dibahas, sementara di Barat tidak demikian. “Perbedaan ini membuat sebagian wanita Indonesia terkejut kala pasangan berbicara atau mengungkapkan secara terbuka hal- hal yang berkaitan dengan seks,” tutur Vika. Di dunia Barat, hubungan intim dilakukan untuk kesenangan dan meraih kepuasan bersama. Inisiatifnya tidak harus selalu datang dari pria, bahkan tidak harus terhenti saat wanita sudah menopause. Siapa yang melayani dan yang dilayani tidak lagi mutlak milik salah satu pihak. “Namun, hal ini tidak akan jadi kendala bila bisa disikapi dengan bijaksana, demi kelanggengan dan keharmonisan rumah tangga”, kata Vika lagi.

3. Tujuan dan Ambisi Hidup

Sebagian besar orang Indonesia punya tujuan untuk “Hidup cukup, bekerja sebaik mungkin, lalu pensiun menikmati hari tua bersama anak- cucu”. Singkat kata, kita lebih santai dan tak punya banyak target. Orang Barat justru sebaliknya. Bagi mereka, menjadi pemenang sangatlah penting untuk mendapatkan pengakuan. “Kehidupan di Barat sangat kompetitif dan terkesan sangat kejam dibandingkan di Indonesia. Setiap individu berlomba membangun kondisi finansial yang sehat, supaya tidak melarat dan menyusahkan orang lain di hari tua,” papar Vika yang selama sempat hidup di Amerika Serikat mengikuti suaminya. Tak sedikit orang yang berharap bisa pensiun muda agar bisa melakukan hal- hal yang diinginkan, seperti keliling dunia. “Untuk hal ini, hampir sebagian besar orang Indonesia akan mengikuti pasangannya yang orang asing, untuk membangun kekayaan selagi mampu dan kuat bekerja,” tambah Vika.

4. Pengasuhan Anak

Menengahi masalah antar pasangan saja sudah sedemikian sulitnya, bagaimana halnya dengan masalah pengasuhan anak, sebesar apa tantangannya? Pada dasarnya, pengaruh ibu akan lebih besar daripada ayah, mengingat ibu akan lebih banyak menyediakan lebih banyak waktu untuk mengurus anak, sementara ayah bekerja untuk menafkahi keluarga. Dengan demikian, proses transfer budaya yang lebih besar bisa jadi berasal dari pihak ibu. Misalnya, pengajaran bahasa ibu, penerapan tata krama dan kesopanan, hingga norma- norma lainnya. Pihak ibu akan cenderung mewariskan lebih banyak nilai budayanya pada anak dibandingkan ayah.

Namun, hal ini masih bergantung juga pada lingkungan dan tempat anak dibesarkan. “Membesarkan anak di luar negeri, terutama di negara maju, lebih besar tantangannya. Terutama di kawasan Eropa dan Amerika, yang jasa pengasuh anaknya tidak semurah di Indonesia dan tidak ada orang terdekat yang bisa dimintai bantuan,” kata Vika. Hal ini membuat para orang tua akan membesarkan anak dengan pola disiplin yang tinggi, karena apa- apa harus dikerjakan sendiri. Calon pengantin baru sudah siap mengarungi biduk pernikahan? (MW)

Artikel Terkait